Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan

Parler, Layu Sebelum Berkembang

Gaes.. Kamu kenal Parler? Bukan mantan pemaen Arsenal yang sekarang udah pensiun yah, karena itu mah Parlour. Kalo Parler mah aplikasi sosial media yang berformat microblogging, yang mirip - dan emang jadi saingan Twitter.

parler-logo

 Bosen Kali Sama Twitter, Isinya Korea Mulu?!

Dia gak cuman niat buat nyaingin Twitter, tapi juga pengen ngebantai pengguna sosmed lain. Soalnya dia ngegembar-gemborin idealismenya yang ngusung kampanye 'free speech' atau kebebasan berbicara. Taglinenya juga ngeklaim diri sebagai 'unbiased social media'.

Karena alesan itu, parler jadinya banyak dihuni sama user-user radikal alias ekstrimis yang udah pasti kalo di platform mainstream bakal disuspend.

Kerusuhan Gedung Capitol


Penggerudukan gedung Capitol yang dihelat sama para pendukung garis keras Donald Trump, pasnya waktu ada rapat sidang pengesahan kemenangan Joe Biden di pilpres kemaren, jadi semacam momentum kejatuhan Parler. Pasalnya, jauh sebelum terjadinya insiden Gedung Capitol, aplikasi yang pertama ngeluncur tahun 2018 itu emang udah dihuni sama banyak user pro-Trump yang rajin ngedarin propaganda. Dan itu terus jalan sampe klimaksnya, terjadilah riot hari Rabu 6 Januari kemaren.

Menyikapi insiden berdarah yang newasin 4 orang itu, Google buru-buru ngebanned Parler. Google beralasan kalo platformnya gak mau diisi sama app yang fasilitasin tindakan kekerasan.. atau provokasi yang bisa micu kekerasan. Apalagi dipake buat mengorganisir aksi kekerasan. Itulah kenapa akhirnya mereka nurunin Parler dari Play Store..

"Apple ngehargain segala jenis perbedaan, tapi gak gini lah caranya..", kata perwakilan Apple



Apple kemudian nyusul. Ngutip dari CNET, perusahaan asuhan Tim Cook tersebut sepakat nurunin Parler juga dari App Store pada hari Jumat pasca kerusuhan. Alesan Apple kurang lebih sama kayak Google, "Apple ngehargain segala jenis perbedaan, tapi gak gini caranya! Gak boleh lah ada yang namanya kekerasan atawa tindakan ilegal apapun." kata salah satu perwakilan perusahaan..

Gak mau kalah, Amazon, yang gak punya marketplace aplikasi atau sistem operasi sendiri juga ikut-ikut ngeblokir Parler. Mereka, yang notabene layanannya dipake sama Parler buat nge-cloud hosting data, gak mau dianggap terlibat dalam tindakan kekerasan.

Reaksi Pihak Parler


CEO Parler, John Matze, kesel banget aplikasinya dibantai secara keroyokan. Lewat pernyataan resminya, dia bersabda, "Mereka tuh (Amazone, Google sama Apple) udah bersekongkol, biar gak cuman aplikasi kita yang gak beroperasi, tapi emang mau ancurin perusahaan kita secara keseluruhan. Sekarang gak cuman tiga perusahaan itu aja yang ngeblok aplikasi kita, tapi semua vendor, dari mulai layanan SMS sampe email provider juga coba buat halang-halangin kita komunikasi sama pengacara kita."

FYI, perusahaan jasa komunikasi yang ngasih layanan SMS atau telpon juga penting buat sebuat start up berbasis user, soalnya, proses registrasi/sign up biasanya pake sistem autenfikasi via nomor hape.

Karena saking keselnya, Matze juga nambahin, "Gini ya.. caranya perusahaan tech gede buat matiin kompetitor?!". Percis kayak yang diberitain Deadline

Kemungkinan Pasca Blokir


Blokir yang diperbuat sama Google mungkin gak terlalu ngaruh, soalnya user yang pengen make Parler masih bisa download dari sumber lain selain Play Store. Tapi kalo App Store, itu ngaruh banget. Soalnya seperti yang kita tahu, kalo iPhone gak bisa diisi aplikasi lain yang bukan dari App Store.

Tapi, sebenernya pemblokiran itu gak bersifat permanen. Karena baik Apple atau Google bilang, mereka bisa naekin lagi aplikasi 10 juta pengguna itu di marketplace mereka asal mau berbenah. Jangan gitu-gitu lagi.!

Teruskan!

Sa Ae Google Bikin Iklan..!

Perusahaan teknologi segede Google, kalo bikin iklan harusnya outstanding. Sejauh ini, beberapa iklan produk Google emang kerasa idenya lumayan extraordinary. Termasuk iklan Google Photo yang terbaru.

Unit layanan penyimpanan foto dan video yang diresmiin 5 tahun lalu ini pake konsep parodi buat iklannnya.
Adalah band Nickelback yang dipilih buat jadi main cast iklan yang dibuat sama agency Arts & Letter Creative Co. itu..

Kenapa Nickelback? Siapa Itu Nickelback?

Well, buat yang gak tau, Nickelback itu adalah band jadul yang terkenal dekade 2000'an yang sempet ngegampar dunia lewat hitsnya yang bertajuk "How You Remind Me" tahun 2001 silam.
Di tahun 2005, band yang vokalisnya sempet married sama Avril Lavigne ini ngeluarin album studio kelima yang berjudul "All the Right Reasons".
Di album ini, ada track yang judulnya "Photograph". Ini jauh sebelum Photograph-nya Ed Sheeran dibikin lho ya..!?

Nah karena lagu "Photograph"-nya inilah Nickelback kemudian dideketin sama Google buat jadi "issue" di iklan barunya Google Photo.
Nickelback diminta buat mengawinkan lagu mereka itu sama aplikasi Google Photo. Hasilnya.. muncul deh lagu lawas dengan pembaruan lirik yang relevan sama teknologi kekinian.

Spoiler Iklan

Iklan berdurasi 1 menit 12 detik ini diawali scene yang merupakan recreate dari video klip "Photograph" yang asli. Cuma bedanya, kalo di video klip asli yang disutradarain sama Nigel Dick dulu, vokalis Nickelback, Chad Kroeger, megang foto dengan bingkai kayu.. kalo sekarang megang iPhone yang di layarnya tampak grid foto dari aplikasi Google Photo.

Foto-foto yang bergantian tampil di layar itu sejalan sama lirik lagunya yang udah dimodifikasi, mulai dari nyeritain gaya rambut Chad yang kayak mie ramen, masa kecil dia, dan juga gaya tampilan yang pernah dia pake tapi dia sesalin.
Selain Chad Kroeger, di snap Google Photo itu muncul juga produser bandnya, yaitu Joey Moi. Pokoknya, iklan ini nostalgic banget deh..!



  Selain Nickelback, band ini juga bikin nostalgia

Update Google

Di balik nostalgicnya iklan ini, ternyata Google Photo punya kebijakan baru.
Bahwa mulai 1 Juni 2021 mendatang, layanan ini gak akan lagi ngasih space unlimited ke usernya buat upload photo sama video hi-quality secara gratisan. Space yang kelak bakal digratisin cuma 15 Gb aja - sama kayak Google Drive. Yang bisa dapet unlimited itu cuma user yang berlangganan Google One, atau pengguna gadget Google Pixel.
Tapi kouta 15 Gb buat user free itu baru akan diitung buat foto atau video yang diupload setelah 1 Juni 2021. Sementara foto atau video yang udah ada sebelum tanggal itu nggak masuk itungan..

Jadi.. Mumpung sekarang masih digratisin, upload-uploadin deh semua foto sama video yang masih di handphone ke Google Photo kamu!
Teruskan!

Selain Google, DuckDuckGo Oke Kok!


Selain Google, ada satu mesin pencari yang sekarang mulai banyak orang yang make. Mulai digandrungi karena konon, mesin pencari ini sangat ramah provasi, alias gak suka kepoin data privacy kita, yang ujung-ujungnya dia ngebaca kita buat dijadii target marketing iklan, baca behavior kita dan lain sebagainya. Nama mesin pencari tersebut adalah DuckDuckGo, yang kalo di bahasa Indonesiain jadinya BebekBebekPergi… apa pula itu, BebekBebekPergi?

Selain karena sifatnya yang gak ribet itu, search engine yang biasa disebut DDG ini juga konon bisa menampilkan hasil pencarian yang lebih jujur. Kenapa? Karena gini.. ketika kita mau nyari “sesuatu” di Google, maka hasil pencarian yang biasanya ditampilin itu udah otomatis dipilihin sama si mbah. Artinya, hasil yang ditunjukkin ke kita itu, bisa bergantung dari behavior kita, data privacy kita, lokasi, kebiasaan, atau hal lain kayak semacam advertisement. Kalian pasti pernah liat dong.. kenapa yang muncul di halaman pertama hasil pencarian mbah Google itu selalu website-website yang emang rajin ngiklan di Adwords, atau website yang emang udah familiar sama ekosistemnya dia. Nah yang seperti ini, disebutnya fiter bubble.

“A filter bubble is a state of intellectual isolation that allegedly can result from personalized searches when a website algorithm selectively guesses what information a user would like to see based on information about the user, such as location, past click-behavior and search history.”

Ngerti gak maksudnya apa?
Maksudnya kurang lebih gini lho :

“Filter bubble itu adalah hasil pencarian yang udah di personalisasi, berdasarkan perkiraan soal apa yang dibutuhin sama si pencari. Biasanya, hasil yang keluar itu berdasarkan informasi si pencari, lokasi, item yang terakhir diklik, atau histori pencarian."

Sementara di DDG, kalo kalian nyari sesuatu, ya hasil yang ditampilkan itu emang website-website yang memuat “sesuatu” itu..! Mau itu website punyanya presiden, punya artis, punya kang cimol atau bahkan punya gembong narkoba sekalian! Mau rapi, mau berantakan, mau serampangan, lurus, belok.. pokoknya selama web tersebut mengandung “sesuatu” seperti yang kalian cari, ya dia bakal dimunculin ke depan kalian.. gitu lho!

Keunggulan lain dari search engine yang pertama kali diluncurkan pada bulan September tahun 2008 ini, adalah anti sama yang namanya ngetracking. Sepeti yang termaktub dalam statement di halaman depan websitenya : "We don’t track you in or out of private browsing mode.”, yang artinya kita nggak ngtrackin kamu ketika browsing di mode private.

DDG juga nggak pernah coba buat manipulasi search suggestion kayak Google, yang tujuannya adalah buat nge-engage kamu ke konten-konten tertentu dengan topik yang kamu cari.


Satu hal lagi..!
Karena DDG ini adalah mesin pencari yang jujur, maka kalo kamu cari konten yang berbau bokep, dia masih mau nampilin.. karena dipikirnya emang sesuai dengan apa yang kamu cari. Kalo google, biasanya coba nahan biar kamu gak nemuin. Jadi.. gimana sekarang? Jadi pindah ke DuckDuckGo?
Teruskan!

Kenapa Google Maps, SIRI, atau Google Translate Pake Suara Perempuan?


Kalian pengguna Google Translate, Google Now, Maps, SIRI atau apalah yang nantinya bisa ngeluarin suara? Pernah kepikiran gak kenapa aplikasi-aplikasi tersebut kebanyakan pake suara perempuan? Kenapa aplikasi-aplikasi yang kebanyakan adalah program asisten pribadi atau navigasi itu nggak pake suara om-om tegas yang bisa bikin pendengernya nurut, biarpun rada kepaksa mungkin..

Alasannya, gak lain karena konon suara perempuan bisa bikin siapapun yang denger jadi nyaman - dengan kata lain, suara lembut perempuan katanya cukup ampuh buat dipake dalam suasana yang tegang.
Laki-laki, konon bisa ngerasa nyaman ketika denger suara perempuan yang kalem. Ini mungkin berlaku buat mereka yang lagi stress di jalan, sambil nyari jalan dengan cara minta petunjuk dari maps.. atau mungkin pada driver ojol yang mau nganter orderan makanan, tapi bingung sama alamat si pemesannya atau bahkan alamat restorannya?? Nah, karena itu, suara perempuan dipake buat ngademin si pengguna yang udah terlanjur panas karena ngikutin suhu aspal..!

Susanne Bennet menyatakan begini.. (btw, buat kalian yang gak atau Susanne Bennett ini siapa, dia adalah pengisi suara SIRI di device bikinan Apple) : “Udah jadi mindset kita kalo denger suara cewek kesannya kerasa lebih nyaman. Dan menurut gue, suara cewek emang terdengar kayak lebih lembut aja, dan.. di samping itu (suara cewek) juga dianggap mampu nyampein informasi secara lebih manis (jelas).”

Sempet ada selentingan pernyataan, kalo aplikasi-aplikasi asisten pribadi atau navigasi itu pake suara perempuan lantaran perempuan dianggap sebagai pelayan buat kaum laki-laki, jadi cocok buat dijadiin asisten. Padahal, faktanya nggak seperti itu. Dipake suara perempuan ya karena alasan itu tadi.. dianggap mampu menyampaikan informasi jadi lebih jelas dan lebih bikin yang dengernya ngerasa nyaman.

Menurut kalian gimana?
Teruskan!