Tampilkan postingan dengan label Instagram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Instagram. Tampilkan semua postingan

Kowe Tak Sayang Sayang, Saiki Malah Ngilang


Seperti yang kita tau sama-sama, kalo The Godfather of Broken Heart, Lord Didi Kempot, udah berpulang menghadap Tuhan YME beberapa waktu lalu. Tapi biarpun gitu, rasanya karya peninggalan belio gak akan pernah mati, dan bakal terus diinget - terutama di kalangan para sadboi yang jiwanya terwakili oleh setiap lagu yang sempat dipopulerkan almarhum. Biarpun konon kebanyakan lagu belio itu perkara patah hati, tapi gak melulu yang bikin jadi identik itu adalah perasaan perih lantaran disakitin sama pasangan atau sekedar cinta yang gak berbalas. Ada juga lagu yang kalo kita denger, itu yang kebayang adalah perasaan sakit dalam arti yang sebenar-benarnya alias sakit fisik! Kenapa? karena di salah satu lagunya almarhum yang liriknya "..kowe tak sayang sayang, saiki malah ngilang.." itu bikin kita keingetan sama orang yang bener-bener ngrasain sakit non-hati, misalnya, sakit karena jatoh nyemplung ke empang, sakit karena jatoh dari motor, kepleset, ketiban ember dan lain sebagainya..

Dan itu emang kejadian di video-video lucu yang sering diupload sama akun instagram spesialis receh. Gak tau kenapa, itu lagu sering banget dipake buat ngiringin perasaan sakitnya orang-orang yang jatoh kepleset, ketiban meja, terpelanting, dan lain sebagainya..?!






Emang sih.. gak semua kejadian apes dipasangin lagunya almarhum pakde yang judulnya Ninggal Tatu itu.. ada juga yang dipasang musik lain. Tapi lantaran banyaknya konten tentang ke-apes-an yang dipakein lagu itu, jadinya kita ngerasa kayak identik aja gitu..! Kayak kalo ngeliat orang jatoh atau apa, keinget lagu itu..! Kalian gitu gak sih? Apa cuma perasaan aja ya??

Well, biar gimanapun.. patutnya kita harus berterima kasih, lantaran semasa hidupnya, almarhum Didi Kempot somehow udah sempet ngewarisin karya yang luar biasa. Soal apes yang di video-video itu kan cuma bikinan para kreator aja...
Teruskan!

Instagram Sama Netflix Ngapain?


Ngerasa punya kesamaan, yakni sama-sama digilai oleh kaum millenials, instagram dan netflix akhirnya ngumumin kalo mereka untuk sementara bakal “jadian” dulu!
Lho kok bisa?? Emang kapan pedekate-nya?
Bisa lah..! Namanya juga bisnis (atau politik juga), namanya kawan bisa jadi lawan, lawan jadi kawan, kawan jadi mantan, atau mantan jadi selingkuhan, itu udah pasti jadi hal yang lumrah..! Gak ada yang aneh dengan itu!

Instagram, yang user under 34 tahunnya sebanyak 65%, sementara netflix adalah platform video stream yang populer di kalangan anak muda - dalam urusan gaet-menggaet daun muda, reputasi netflix malah lebih unggul 2% dibanding youtube -, keduanya berencana buat jalanin project berbasis konten untuk anak muda.

Kenapa begitu?

Kondisi belakangan ini, yang mana dunia lagi sepi karena lockdown dimana-mana, tak lain penyebabnya karena pandemi covid19, mengakibatkan jutaan anak muda di seluruh dunia jadi ‘kesepian’, karena mereka harus berlama-lama di rumah aja. Sementara dalam kondisi normal, yang namanya anak muda kan seneng banget buat bersosialisasi. Pastinya itu jadi bikin anak muda stress. Hal ini disadari oleh dua platform palilng populer saat ini, instagram dan netflix itu tadi.
Mereka sama-sama khawatir kalo anak-anak muda yang terjebak di rumah aja itu, jadi depresi lantaran gak bisa nongkrong-nongkrong lucu atau minum-minum cantik sama temennya. Atau bahkan nonton-nonton galak sama pacarnya..!

Hingga sampai pada satu kesimpulan berupa strategi bisnis: instagram yang dibeli sama facebook tahun 2012, bareng sama netflix, berencana buat kerjasama dalam serial Wanna Talk About It?, serial yang bintangnya (secara bergantian: Lana Condor, Joey King, Alisha Boe, Caleb McLaughlin, Jerry Harris, Ross Butler dan Noah Centineo), bakal ngobrol-ngobrol sama pakar kesehatan mental tentang bagaimana caranya menyayangi diri sendiri.. terutama di musim pandemik yang bikin banyak orang jadi jenuh level kecamatan.



Konon nih.. kerjasama ini jadi sebuah milestone yang bagus buat instagram, buat naekin (kembali) citra mereka di mata anak muda, setelah beberapa tahun belakangan, banyak dari kalangan milenials mulai jijik sama konten sosmed yang satu ini. Tak lain, penyebabnya karena banyak selebgram-selebgram receh yang kerjaannya cuma pamer banda. Ini yang bikin perusahaan yang dibikin 9 tahun lalu itu, coba buat ngilangin jumlah like di postingan tertentu. Daripada banyak usernya yang balikan sama twitter yekaaann..?!

Nah, soal kerjasama dalam serial Wanna Talk About It? ini, ternyata katanya bukan cuma instagram atau netflix yang berpotensi dapet keuntungan.. disebut, facebook juga bakal kecipratan hoki..! Lho kok bisa? Iya, soalnya, facebook, sebagai bapak angkatnya instagram, disebut bakal punya pegangan lebih kuat buat ngangkangin youtube. Hmm.. strategi bisnis yang jitu dari timnya Zuck buat jaga positioning! Sebaliknya buat netflix, miliaran pengguna IG sama facebook, bisa jadi ladang buat promosi naekin pamor mereka nantinya.

Well, kita liat aja.. apakah kerjasama mereka juga bakal menjadi sesuatu yang bisa mengubah sesuatu.. seperti halnya wabah virus corona mengubah dunia? Atau emang cuma moment exploitation aja demi jaga popularitas? We’ll see..
Teruskan!

Apa-Apa Pake Hashtag


Hashtag atau tanda pager - yang bahasa inggrisnya tuh octothorpe symbol, yang notabene sering banget kita liat jadi awalan dari suatu kata atau kalimat pendek, sudah menjadi variable penting dalam hal bikin caption, konten ataupun update status. Tujuan penggunaan hashtag adalah untuk menandai suatu metadata yang digunakan di sosial media. Biasanya penggunaan '#' atau hashtag itu buat memudahkan kita, para pengguna sosial media, menemukan konten dengan tema tertentu.

Lebih dari itu, hashtag belakangan banyak disalahgunakan buat jadi tagline sebuah campaign produk. Seolah, semua produk yang sekarang diiklankan, menggunakan hashtag sebagai branding tool. Tujuannya jelas buat meningkatkan brand awareness pada produk yang diiklankan.
Nggak ada salahnya sih.. karena prinsip dari kegiatan promosi adalah mengenalkan produk dan membuatnya laku terjual. Biarpun jelas, dari sisi objectives, make hashtag buat tagline promosi produk di platform non-digital sejatinya udah beda dari maksud awal dikenalkannya karakter ini.

Nah.. bicara soal siapa yang mengenalkan tanda "shift+3" di keyboard PC/laptop ini jadi begitu populer? Udah pada tau gak?

Kalau belum tahu, nih dikenalin..
Penemu hashtag - sebutlah begitu, namanya adalah Chris Messina. Weihhh..! Hampir mirip kayak nama klub bola di Itali yang degradasi mulu ya?! ..tapi ya itu namanya: Chris Messina
Lelaki 38 tahun ini, bikin metode hashtag buat ngelompokkin berbagai user-generated content (konten yang dibuat oleh pengguna) ke dalam satu saluran lewat hashtag yang sama. Kalau hashtagnya "#quote", maka yang akan muncul adalah konten-konten berisi quote atau kutipan. Kalo hashtagnya "#SobatAmbyar", maka yang akan muncul adalah konten yang ngebahas kegalauan, kisah cinta tragis, lagu Jawa atau Pak Didi Kempot. Kalau hashtagnya "#OpenBO", maka yang akan muncul adalah konten................ asudahlah!

Well, Messina pertama make hashtag itu di Twitnya yang dia post di platform Twitter. Ya iyalah.. masa ngetwit di Tinder!
Dia melakukan itu di tahun 2007 silam. Twitter sendiri awalnya nggak terlalu suka sama konsep hashtag, karena dianggap sebagai "thing for nerds" atau "alat buat yang cupu". Tapi, meski dikutuk, penggunaan hashtag di kalangan pengguna Twitter kala itu justru malah semakin masif, terstuktur, tapi gak tau sistematis atau nggak..

Menyikapi hal itu, Messina santuy ae kek orang bekasi. Dia gak berusaha ngeduitin apa yang udah dicetuskannya itu, padahal, menurut data per tahun 2018, sebanyak lebih dari 85% dari 50 website dengan traffic teratas itu menggunakan hashtag. Itu artinya, bisa saja website-website tersebut merajai daftar website terpopuler karena pengaruh pemakaian hashtag.
Meski demikian, Chris Messina yang pernah berkuliah di Carnegie Mellon University itu justru nganggap kalo hashtag temuannya yang kemudian jadi semacam fenomena global dunia konten (terutama digital), adalah sesuatu yang lahir di internet dan nggak ada yang punya. Iya bener..! kalo sesuatu yang lahir di internet itu emang gak punya bapak. Kecuali lahir di rumah sakit..
Chris Messina intinya gak minta duit atau royalti dari siapapun yang make hashtag buat tweet, caption, status atau taglinenya, baik itu untuk keperluan personal atau komersial. Pendek kata : Dia dah ikhlas!

Gitu dong, bang.. gak matre, apa-apa diduitin! Salut buat Bang Chris Messina!
Semoga dia bisa tetap bersemangat untuk menemukan hal-hal lain lagi yang nantinya berguna buat kemajuan dunia digital. Atau kalo perlu, jangan cuma dia, kita juga bikin sesuatu!! Okeh?!
Teruskan!

Etika Bersosial Media


Ada istilah tentang sosial media: "kalau mau debat di facebook, kalau mau diskusi kerjaan di linkedin, kalo mau pansos di instagram, kalo mau nyampah di twitter."
Yap, betul! Sosial media emang ada klasifikasinya masing-masing, sesuai sama karakter kebanyakan penggunanya.

Facebook, yang notabene adalah sosmed sejuta umat, dimana jumlah penggunanya udah mencapai angka 2,2 miliar, sedangkan untuk di Indonesia sendiri, pengguna sosmed yang mulai eksis tahun 2004 ini jumlahnya ada 120 juta! Penetrasi facebook di negara kita bisa dibilang udah merata, dari kota sampe ke pelosok. Bermacam aneka manusia dari berbagai strata sosial menggunakan facebook. Gak peduli dia lulusan S3 Harvard, lulusan STM bangunan, atau yang gak lulusan mana-mana. Wajar kalo gak semua orang bisa berperilaku smart waktu make facebook.

Beda dengan instagram yang jumlah usernya baru setengah dari facebook, yakni sekitar 1 miliaran. Di sosmed berbasis foto itu, kebanyakan orang muncul buat mamerin bandanya. Mulai dari rumah, mobil, pakean, asesoris, knalpot motor, penggorengan, termos, baskom, sampe skincare buatan Kosambi mereka riya-in. Dampaknya? Mereka berhasil memicu para followersnya masing-masing buat ngikutin apa yang mereka lakuin. Para followers akun-akun gede, ikut mamerin apa yang dipunya - meskipun sebenernya nggak punya. Miris..! Karena kadang, yang bukan kepunyaan mereka pun (semisal pacar orang), itu dipamerin di akun mereka, dengan status kepemilikan yang diklaim sepihak.

Sementara twitter, yang sekarang mulai rame lagi, sering kebanjiran tweet-tweet galau dari abege-abege yang mungkin pipis ke kamar mandi aja masih dianterin sama nyokap. Maklum, menurut Omnicore, 80% pengguna twitter adalah millenial - meskipun yang sekarang usianya 36 juga masih bisa dikatakan millenial.
Diantara 500 juta tweet yang terlontar setiap harinya, kebanyakan isinya berkutat soal galau karena dimodusin, diPHP-in, kelamaan sendiri, jagain pacar orang, sampai ke urusan kekosongan kegiatan di malam minggu - selain tentunya jelek-jelekin pemerintah atau bagus-bagusin pemerintah. Semua ada.

Kalo untuk linkedin, biasa dipake para staff untuk ngejilat-jilat atasannya dengan cara ngasih like buat apapun yang diposting sama atasan, ngasih komen "hebat sekali, pak!", "luar biasa, pak", sampe ke "terima kasih sudah berbagi" ..itu jadi hal biasa. Sementara para atasan, seneng banget share motivasi yang menceritakan perjuangan dia dan/atau teman/kerabat/relasinya yang mulai dari 0 bak pom bensin, sampai dengan level sukses. Banyak juga post tentang tips menghadapi persoalan di kantor, menyiasati keuangan, sampai menghadapi kehadiran orang-orang aneh di lingkungan pekerjaan. Padahal, mereka juga bisa mencicipi posisi "atasan" kemungkinan bukan karena usaha. Mereka juga stress sama kerjaan mereka.. makanya mereka maenan linkedin.
Tapi satu hal yamg harus diperhatikan waktu menggunakan linkedin. Jangan pernah caper sama marketing, sekretaris, personal assistant, flight attendant, atau siapapun yang dirasa cakep. Kalo nggak, siap-siap aja dihardik orang banyak. Soalnya, mereka katanya gak mau kalau linkedin dibikin jadi media untuk flirting. Apalagi sampai kurang ajar.

Jadi bagian dari perubahan sociocultural behavior dari konvensional ke digital, membuat kita harus smart dalam menyikapi fenomena ekosistem sosial media. Diharapkan, kita bisa lebih sadar dalam menggunakan berbagai platform. Meski ada tagline "what you see me on sosmed isn't what on real life" atau "You can't believe everything you see in social media", tapi tetap saja. Sosial media adalah ruang publik. Sudah selayaknya kita menjaga etika ketika berada di ruang publik. What happens in Vegas, stays in Vegas.. don't be in Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, Youtube.. apalagi P*rnH*b.
Jadilah generasi cerdas yang bisa memanfaatkan teknologi untuk kemajuan, bukan degradasi moral.
Teruskan!

Cewek Punya Bulu Ketek?


Guys.. apa yang lo pikirin kalo denger ada cewek yang bulu keteknya gondrong?
Sexy.. Jorok.. atau unik?

Belakangan, lagi marak tren cewek gak cukur bulu keteknya, terus foto, terus upload di instagram.. Mereka selfie dengan nunjukkin bulu ketek yang mereka miliki, dan berasumsi bahwa itu merupakan bagian dari ekspresi kebebasan akan tubuhnya.
Mereka menganggap, cewek gak harus tampil bersih dengan rutin melakukan waxing bulu ketek, karena mereka bebas mau tampil gimanapun tanpa peduli anggapan orang lain yang liat.
Intinya.. mereka ingin menerapkan standar baru di atas stereotype yang menyebut bahwa kecantikan seorang cewek itu cuma bisa dilihat kalo dia tampil bersih.

Nah.. kira-kira, lo lebih suka yang mana sih? Lebih milih untuk tampil bersih dengan mengikuti standar kecantikan yang dari dulu ada, atau tampil "liar" seperti yang ditunjukkin orang-orang berikut ini?

View this post on Instagram

If you’re a person who is open to growing and learning regardless of your age, I salute you! ✨ If you’re a person who, when presented with new information that contradicts what you once thought, will admit you were previously speaking from a less informed place… and publicly admit that you changed your mind based on the new information… I double salute you! ❤️ This is SUCH a simple concept, but so many adults prove they are unable to do it. Most children have mastered this concept, yet so many adults fail at this time and time again, letting their egos get in the way. πŸ’” None of us are perfect. That’s exactly what this is about. Learning, admitting we were wrong, and changing our behaviours based on the new information. So simple. Yet so difficult for many. This is something I will probably be working on for the rest of my life. I am somewhat still conditioned to try to protect my ego. But I can be aware of this and remember what I mentioned above. Then grow.

A post shared by Body Hair Positive🌱Vegan (@bodyhairpositive) on



View this post on Instagram

For the ladies reading this, how many of you know what your armpit hair looks like fully grown? (I mean fully grown out and not just the 1-2 week stubble) I asked myself this question too because I’d been shaving/waxing since those dark hairs invaded my underarms (despite my wise mother telling me I shouldn’t). “It just looks better” ya ya ya, then why do (mostly) women get the pressure of removing those beneficial hairs? Grr #equality So thanks to rare shower access living in the 🚌, it was the right time to let them go wild! . And it’s great!!! It’s one less thing to do or think about, it’s super comfortable, and has been a great self-love exercise. I quickly realized very few would judge me for being natural, and those who would shouldn’t be in my life? Harsh? Idk… I’d feel naked without it so I challenge you to try growing yours out this winter. Remember you don’t have to please others, armpit hair is beautiful, and if you want to shave again come summer time, it will always grow back when you want πŸ˜‰ πŸ“Photo 1: Baja California Sud πŸ“Photo 2: Croatia

A post shared by LΓ©onor Bacon (@leonorbacon) on





View this post on Instagram

A post for my pits because I want to πŸ˜ŠπŸ’š I'm not the first woman to venture the natural path and dye thy pits, and I wont be the last, but I have had fun getting to know what it's like to feel the breeze under my arms in a different, sometimes smelly or itchy way. It's freeing to me but I'm also not saying I want this forever, I just like breaking the bounds of society that are make believe because I believe this should not be a gross thing for a woman to do at all and should certainly never be a thing to be shamed for by a lover or anyone. I did it for no other reason than I want to be a little more fairy-like/mystical haha I'm actually really shy about showing them in public without a care but I also feel like it's an important side of me to share... So I'm posting to the public this once...o.O doesn't really make sense but it does to me so whatever πŸ˜‚. Also, swipe for a flashback from 2015 when this was alllll just a joke, and my dreams of growing my pits started, and they came true. So if my dreams can come true, so can yours!!! πŸŒŸπŸ˜‰ . . #postforpits #radioactive #armpithair #dyedarmpits #greendaylol #fairiepits #imradioactive #womanarmpit

A post shared by Mary Farideh (@nightmary_127) on




Teruskan!